NYAI DESA MATI
Jangan sebut nama
"Lihatlah, ini novel pertama dari lanjutan novel yang di tulis Lhati!" Triska, perempuan manis, sang pimpinan crew kreatif itu melempar pelan novel ke atas meja panjang yang biasa di pakai untuk rapat.
Spontan, Meliala, Alizio, dan Yusuf yang tengah duduk melingkari meja rapat, saling berhadapan satu sama lain, lantas mengalihkan pandangan pada novel karya Lathi yang terbilang cukup menggemparkan dunia industri. hiburan.
"Ska, tolong berhenti mengaitkan hilangnya Lathi dengan buku ini!" tegas Meliala, seorang penulis sukses berparas cantik memesona, tidak peduli dengan Lathi sang adik tiri, serta saingan berat dari perusahaan PT BSA Entertiment, tempat keempat anak muda ini menjenjang karir.
"Mel! Kuharap kamu berpikir dengan jernih, gunakan logikamu! Aldi dan Lathi, jelas hilang tidak wajar saat pergi ke Kalimantan, hanya untuk melanjutkan sakuel buku sialan ini!" tunjuk Triska pada novel yang tadi dia lempar.Sudah satu pekan lamanya, Triska berusaha meruntuhkan niat ketiga teman sekaligus rekan kerjanya, untuk tidak pergi ke daerah Kalimantan, apalagi hanya sekedar untuk mencari narasumber dan suasana nyata, demi project filem yang kini banyak di cari pasar.
"Kamu yang harusnya berpikir jernih!" tandas Alizio. "Kau tahu 'kan, selicik apa perempuan itu?!" Alizio begitu muak dengan perdebatan yang kembali terjadi.
Alizio bukanlah sutradara abal-abal, dia jelas sudah mempertimbangkannya, sebelum benar-benar melaksanakan projectini.
"Iya, benar! Bisa saja ini adalah sebuah rencana agar PT. GLO Entertiment. Agar bisa meraih popularitas besar seperti saat ini! Bahkan, perusahaan itu bisa menggeser rating PT BSA Entertiment."
"Sudah empat tahun, PT itu masih saja ada di urutan pertama!" imbuh Yusuf menimpali.
"Atau mungkin, dia sengaja kawin lari dengan Aldi?" pukas Meliala. "Aku jelas tahu, bahwa hubungan Aldi dan Lathi tidak pernah medapat restu dari orang tuaku,"sambung Meliala, menatap raut wajah gelisah yang terpancar dari paras manis Triska.
"Mel! Jangan meremehkan dunia gaib, mereka itu ada! Sungguh benar-benar ada!" hardik Triska, tidak tahan menghadapi ketiga sahabatnya yang selalu saja keras kepala, tidak mau mendengar pendapat orang lain.
"Sudah! Kita berkumpul di sini hanya untuk berdiskusi! Bukan berdebat!" tegas Alizio, menatap setajam elang pada Triska yang saat ini duduk di hadapannya.
Dengan kesal, Triska menutupmulutnya, dia lelah menjelaskan suatu hal yang sama di setiap harinya.
Sedangkan ketiga temannya, mereka kembali melanjutkan diskusi tentang peralatan apa saja yang harus mereka bawa untuk berangkat ke sebuah daerah yang konon katanya, ada desa dua dimensi di daerah tersebut.
Sepanjang rapat berlangsung, Triska hanya diam, pasrah dengan keadaan. Mau tidak mau, Triska harus menyetujuinya demi ibunya yang kini sedang rawat di rumah sakit, dan Triska jelas membutuhkan dana untuk itu,terlebih lagi adiknya yang sebentar lagi akan duduk di bangku kuliah.
Setelah rapat selesai, mereka berempat pun bergegas pergi dari gedung megah ini, lantas pulang dengan menggunakan kendaraan mereka masing-masing.
Di perjalanan. Pikiran Triska melayang, menelaah kejadian demi kejadian yang termasuk ganjil dan aneh. Lathi kerap kali mendatangi banyak orang dengan waktu bersamaan. Dan hal itu yang membuat Triska yakin bahwa Lathi telah tiada.
Malam berganti pagi, waktu punbergulir terasa begitu cepat. Pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat dua jam yang lalu. Dan saat ini keempat anak muda itu tengah berada di perjalanan menuju Desa Batara, Kalimantan Timur.
Semuanya begitu semangat, ingin segera sampai di tempat tujuan. Berbeda dengan Triska yang amat sangat tidak ingin datang ke tempat menyeramkan seperti Desa itu.
"Sebaiknya, kalian pikir-pikir terlebih dahulu, sebelum benar-benar memasuki wilayah itu," ucap Pak sopir, menambahkesan seram di balik desas desus legenda yang sudah Lathi tulis di novel pertamanya.
"Tuh, 'kan kubilang juga apa!" seru Triska, membenarkan ucapan Pak sopir dengan begitu antusias.
"Kami sudah memikirkannya dengan sangat matang!" sahut Alizio, ketus, tidak suka di kritik demikian oleh orang yang sama sekali tidak Alizio kenal.
Suasana menjadi canggung, hening ... Sopir itu pun tidak lagi bersuara setelah mendengar jawaban ketus dari Alizio.
Mobil rental itu semakin jauhmelaju, melewati perbukitan dengan semak belukar di sisi kanan dan kiri, sama dengan pepohonan rimbun yang berada di sela-sela semak belukar itu.
Semakin jauh melaju, suasana cerah mulai meredup karena dedaunan rimbun pohon itu menutupi langit, hingga matahari tidak menembus ke bawah wilayah ini.
Pandangan Meliala terfokus ke depan, menatap suatu gapura kumuh, kotor berselimutkan lumut. Jarak antara kendaraan dan gapura itu semakin mendekat, memperjelas tulisan besar, 'BataraPatilasan' Itulah yang tertulis di gapura tepat di hadapan mereka.
'Oh, jadi ini, yang Lathi sebut Batara Patilasan?' batin Meliala, ada rasa kagum karena empat tahun lalu gadis itu berani masuk ke desa ini hanya di temani Aldi.
"Eh, Mel! ini desa mati, ya? yang di jelaskan Lathi, dalam novelnya?" ucap Yusuf sambil menegakan punggungnya.
Pertanyaan Yusuf di balas dengan decitan rem mobil yang mendadak berhenti, tepat di depan gerbang masuk, entah karena apa.
"Jangan sebut nama!" ucap Paksopir, sambil menatap lurus ke depan, lantas menoleh ke belakang menatap ketiga anak muda itu secara bergantian.
"Kan..."
"Apa? Sejak tadi 'kan-kan, bosan aku mendengarnya" Alizio begitu muak mendengar Triska selalu berbicara 'Kan'.
"Apa kalian mendengar saya?" tanya Pak sopir, dengan mimik wajah gusarnya.
"Mengapa tidak boleh meyebut nama?" tanya Meliala, sang penulis profesional itu selalu saja ingin tahu segalanya, karena profesinyamemang di tuntut untuk serba tahu.
Pak sopir itu mengubah posisi duduknya, kembali menghadap ke depan, memandang jalanan sempit yang hanya bisa di lewati satu mobil, dengan sisi kanan dan kiri yang di penuhi dengan rumput-rumput liar, rerimbunan pohon bambu, dan pohon liar lainnya.
Semua itu nampak tidak terlalu jelas karena kabut kelabu tipis sedikit menghalangi jarak pandang.
"Turuti saja! Jangan sebut nama,dan jika melihat perempuan cantik, jangan menatapnya terlalu lama!" gumam Pak sopir, sambil kembali menginjak pedal gas mobil miliknya itu.
"Kau tahu alasannya?" bisik Yusuf, di balas dengan tampar gurauan oleh Meliala.
"Aduh... Sakit, Mel!" Yusuf mengerutkan keningnya sambil mengusap bekas tamparan Meliala.
"Habisnya, kau aneh! Menanyakan itu padaku, aku bukan warga sini! Harusnya kau tanya warga sini, bukan aku!" seru Meliala, tidak mengerti bagaimana cara berpikirpemuda tampan satu ini.
"Jangan buat kegaduhan, selama menyusuri jalan desa ini!" ucap Pak sopir, kembali membuat keempat anak muda itu harus berpikir keras.
'Asyik sekali, banyak bahan untuk membuat project baruku,' batin Alizio, tersenyum seakan-akan penuh kemenangan.
Hening ... Hanya suara mesin mobil saja yang dapat mereka dengar. Pandangan mereka menyapu, melihat setiap gubuk-gubuk reot, kusam, dan di kelilingi semak belukar.Di lihat dari semak yang begitu rapat itu meyakinkan teori anak muda itu bahwa Desa ini memang benar-benar desa mati, tidak ada mahkluk hidup yang terlihat. Jangankan terlihat, suaranya saja pun tidak terdengar sedikit pun.
Dering ponsel milik Meliala berhasil mengagetkan mereka berempat, yang sejak tadi sedang menikmati pemandangan tanaman liar berselimut kabut abu-abu.
[Ya, ada apa?] cetus Meliala, setelah mengangkat panggilan dari ibu tirinya yang bernama, Kemala.
[Ibu hanya ingin memberi tahukabar gembira!] seru Kemala, terdengar begitu antusias.
[Ya? Apa?] tanya Meliala, singkat.
[Kakakmu, Lathi... Lathi sudah pulang,] jawab Kemala, membuat Meliala terperanga bagaikan di sambar petir.
[Jadi, kamu dan temanmu tidak perlu mencarinya lagi!] sambung Kemala, masih merasa terbang melambung tinggi setelah melihat putrinya kembali ke rumah, walau dalam keadaan memprihatinkan.
"Ada apa, Mel?" tanya Alizio sambil menatap Meliala dari kaca yang tergantung di atap mobil,tepat di hadapan Alizio, dan sopir.
Meliala menggelengkan kepalanya pelan. Lantas melanjutkan perbincangan dengan Kemala, sang ibu tiri yang sudah menghancurkan rumah tangga orang tua Meliala.
"Lathi sudah pulang," jawab Meliala dengan pandangan kosong. Antara senang dan sedih. Sedih karena Lathi kembali, dan senang karena dengan kepulangan Lathi, berarti mitos desa ini itu bohong.
Alizio, Yusuf, dan Triska, tersenyum lega, setelah mendengarkenyataan itu, terutama Triska. Dia. Ikut senang ternyata semua ansumsi Triska itu salah.
[Sudah kubilang, ikhlaskan! Ikhlaskan Kemala!] teriak seorang pria bersuara berat yang sangat Meliala kenali.
[Tetapi anak kita sudah ketemu, dia di kamarnya!] teriak Kemala, balik membentak suara lelaki yang tidak lain adalah Abian, sang ayah kandung dari Meliala dan Lathi.
Mereka berdua satu ayah, beda ibu.
[Sadarlah! Harusnya kau dukung Meliala yang mau membantukenyataan itu, terutama Triska. Dia. Ikut senang ternyata semua ansumsi Triska itu salah.
[Sudah kubilang, ikhlaskan! Ikhlaskan Kemala!] teriak seorang pria bersuara berat yang sangat Meliala kenali.
[Tetapi anak kita sudah ketemu, dia di kamarnya!] teriak Kemala, balik membentak suara lelaki yang tidak lain adalah Abian, sang ayah kandung dari Meliala dan Lathi.
Mereka berdua satu ayah, beda ibu.
[Sadarlah! Harusnya kau dukung Meliala yang mau membantumencari Lathi! Bukan melarangnya untuk mencari Lathi!] teriak Abian.
Meliala hanya diam membusu sejuta bahasa, setelah mendengar perdebatan orang tuanya di ujung panggilan sana. Meliala masih tidak mengerti dengan semua yang baru saja orang tuanya katakan.

Kerenn
BalasHapusKerenn
BalasHapus๐๐๐๐
BalasHapusPANJANG BANGETT BAGUS BAGUSS
BalasHapuskerennn๐๐
BalasHapuskeren bet ✨
BalasHapus